Minggu, 01 Januari 2012

Hidup dan sejuta mimpi ; Realistis?

Mimpi? Banyak orang yang takut bermimpi besar. Hidupnya terkungkung oleh pola pikir yang senantiasa berat karena dibebani ketidakmampuan yang semestinya tidak ada dalam kepalanya.

Seperti ; "Kita cuma orang kecil, makan saja susah. Bagaimana hendak sekolah, apalagi kuliah?" atau ; "Ayah saya hanya seorang kuli bangunan, darimana saya dapatkan uang untuk menjadi seorang pilot atau dokter?"

Semua pola pikir seperti kedua kalimat di atas berbicara tentang sebuah realita. Tapi, pada kenyataannya hidup ini tidak melulu menggunakan keralitasan. Pernahkah kita berpikir bahwa Rasulullah Saw. itu juga dahulu seorang yang susah? Ayahnya pun meninggal saat ia dalam kandungan, ketika beliau berumur enam tahun ibunya pun meninggal. Betapa berat hidupnya, namun, di usianya yang ke dua puluh lima tahun, beliau bisa menjadi seorang pengusaha sukses. Mendapat gelar Al-Amin dan menikah dengan saudagar wanita terkaya kala itu dengan mahar yang luar biasa besarnya.

"Tapi beliaukan Rasul? Seorang Nabi utusan Alloh Swt."

Ada lagi perkataan yang kerdil ini selalu mengikuti. Baiklah kalau begitu, mari kita lihat kehidupan para sahabatnya. Kita lihat Abdurrahman bin 'Auf. Beliau adalah saudagar terkaya yang paling kaya di antara sahabat yang lain. Sekali sedekah, jumlahanya mencapai milyaran rupiah. Hmm, nanti dulu, apakah beliau tiba-tiba jadi kaya?  Sim salabim? Ternyata tidak, butuh usaha juga, sama seperti kita.

Kedatangannya bermula ketika hijrah ke Madinah. Saat hijrah, semua harta bendanya di tinggalkan di Mekah. Ia hidup dalam keadaan nol, memulai semua bisnisnya dari awal. Jika diantara kita pernah membaca sirah ketika Abdurrahman bin 'Auf di persaudarakan dengan Saad bin Rabi' dan ia menolak semua pemberian saudaranya tersebut, malah ia meminta ditunjukkan dimana pasar. Ia berdagang, sahabat. Mulai kembali kehidupan dari titik dimana semua dimulai. Lambat laun usahanya besar, ia senantiasa berdoa dan terus yakin dengan apa yang Alloh dan Rasulnya perintahkan. Maka pasti ; "Aku (Alloh) tergantung prasangka hamba-Ku."

Bukankah pernah Rasulullah Saw. berkata bahwa ; sembilan dari sepuluh pintu Rizqy itu didapat dari berniaga?

Mungkin kita yang kurang peka terhadap bekalan ilmu yang sudah ditinggalkan Rasulullah Saw. kepada kita. Mungkin kita lupa bahwa Rasulullah Saw. menebarkan, mengajarkan, mendakwahkan, dan berjihad pun pernah berdarah-darah, dicaci maki, dihina, dilempari kotoran. Tapi beliau tetap sabar dan terus melakukan tugasnya, hingga saat ini Islam dirasakan oleh semua yang memeluknya, dengan total pemeluk terbesar di dunia ; 1,3 Milyar. Bahkan Vatikan pun mengakui bahwa Islamlah agama terbesar di dunia mengalahkan nasrani saat ini. Islam juga adalah agama dengan total permintaan terbesar di Eropa.

Dan sampai saat ini Rasulullah adalah manusia pertama sebagai orang tersukses di dunia dalam buku yang ditulis Micheal Hart yang notabanenya adalah seorang nasrani.

Kita memiliki contoh terbesar, orang paling sukses dengan rentetan jejak rekam yang begitu nyata. Lantas masihkah kita mengeluh bahwa kita adalah orang tidak mampu, kelas dua, kurang pandai, dan berjuta alasan yang membunuh kehidupan kita sendiri untuk mendapatkan kesuksessan? Mulai saat ini bangkitlah, berjuang, habisi kata-kata konyol dalam kepala kita. Karena kehidupan adalah milik Alloh, minta padanya dan berjuanglah ; "Man jadda wa jadda!"

08 Safar 1433 H
Graha Pesantren Entrepreneur Bekasi
Untuk kita pemuda muslim yang tangguh, Hamasah!

2 komentar:

  1. "Man jadda wa jadda!"
    Jari selalu suka kata itu, spirit super sakti yang selalu bisa membuat Jari tetap bertahan...

    BalasHapus