Tahukah
padahal semua kejahatan sedang mengerumunimu, mengecilkan nyali dan
menghilangkan pikir denyut nadi yang hampir lupa berdetak.
Sementara
kita si empunya berpesta pora, nikmati waktu yang sebentar lagi berkata menunjuk
muka ; bodoh!
Tidakkah
kita menyeka darah saat luka-luka menganga Rohingya berleleran? Lupakah saat
Suriah menjelma neraka saat syi’ah berpesta di atas daging-daging mulia saudara
kita? Dan di negeri ini masjid-masjid dirobohkan, gereja berlomba didirikan,
bersamaan dengan itu semua munafik dan kafirin berlomba menguasai setiap
jengkal bumi hasil nyawa syuhada; di pemerintahan, militer, pendidikan, dan
kita?
Kitalah
air hujan di atas daun perdu? Berlarian kesana-kemari, bening namun keruh pikir,
kemudian jatuh. Tak banyak yang tertangkap, dan jatuhnya menghidupi umbi yang
tak semua bisa dikonsumsi.
Kita
sibuk memikirkan hal bodoh sementara setiap busur mulai di pusatkan di jantung,
urat leher, hati dan retina kita. Sementara kita? Berlomba puaskan mata, penuhi
perut dan hiasi sampul tubuh yang tak juga berkesudahan, padahal ia akan
dilamun liang dan menyetubuh; dalam tanah!
Dan
mata ini buta melihat kebenaran yang sesungguhnya, menafikan ulama jujur namun
agungkan ‘ulama’ kufur? Jantung hati kita tak lagi merasa, nikmati saja setiap
nafsu yang penuhi rongga dada dalam amarah karena menilai saudara seiman yang
salah sedikit tanpa maaf; gila!
Kita
jadi mesra dengan artis yang khotbah dari pagi-kepagi, ingat semua ucap, lekat
di langkah-tampil-pikir-nista-hingga kematian kita menjelmanya.
Kita
ini apa? Kitakah photocopy yang sama buruknya namun lebih kabur, lebih murah
dan sampah. Hanya seperti inikah kita?
Bekasi,
25082014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar