Senin, 25 Agustus 2014

Meng-Konsumsi Kebodohan


Tahukah padahal semua kejahatan sedang mengerumunimu, mengecilkan nyali dan menghilangkan pikir denyut nadi yang hampir lupa berdetak. 

Sementara kita si empunya berpesta pora, nikmati waktu yang sebentar lagi berkata menunjuk muka ; bodoh!

Tidakkah kita menyeka darah saat luka-luka menganga Rohingya berleleran? Lupakah saat Suriah menjelma neraka saat syi’ah berpesta di atas daging-daging mulia saudara kita? Dan di negeri ini masjid-masjid dirobohkan, gereja berlomba didirikan, bersamaan dengan itu semua munafik dan kafirin berlomba menguasai setiap jengkal bumi hasil nyawa syuhada; di pemerintahan, militer, pendidikan, dan kita?

Kitalah air hujan di atas daun perdu? Berlarian kesana-kemari, bening namun keruh pikir, kemudian jatuh. Tak banyak yang tertangkap, dan jatuhnya menghidupi umbi yang tak semua bisa dikonsumsi.
Kita sibuk memikirkan hal bodoh sementara setiap busur mulai di pusatkan di jantung, urat leher, hati dan retina kita. Sementara kita? Berlomba puaskan mata, penuhi perut dan hiasi sampul tubuh yang tak juga berkesudahan, padahal ia akan dilamun liang dan menyetubuh; dalam tanah!

Dan mata ini buta melihat kebenaran yang sesungguhnya, menafikan ulama jujur namun agungkan ‘ulama’ kufur? Jantung hati kita tak lagi merasa, nikmati saja setiap nafsu yang penuhi rongga dada dalam amarah karena menilai saudara seiman yang salah sedikit tanpa maaf; gila!

Kita jadi mesra dengan artis yang khotbah dari pagi-kepagi, ingat semua ucap, lekat di langkah-tampil-pikir-nista-hingga kematian kita menjelmanya.

Kita ini apa? Kitakah photocopy yang sama buruknya namun lebih kabur, lebih murah dan sampah. Hanya seperti inikah kita?

Bekasi, 25082014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar